Cerita Imlek

Halo, di blog kali ini aku akan menceritakan tentang Imlek. Sebenarnya setiap tahun aku merayakan Imlek tetapi aku tidak pernah tahu asal muasal Imlek, yang aku tahu itu anak-anak yang masih kecil dan belum menikah akan diberi angpao. Kalau Imlek tahun ini beda dengan tahun lainnya karena tahun ini dirayakan di rumah aku, karena biasanya merayakan di rumah ema atau nenek. Aku hanya mengetahui kalau Imlek itu acara kumpul keluarga besar dan membagi-bagi angpao.

Nah, ternyata setelah aku membaca tulisan Tom Saptaatmaja yang menulos tentang “Imlek 2570, Kebersamaan dan Keselamatan Bangsa” aku menjadi tahu bahwa Imlek dirayakan selama lima belas hari. Tidak hanya warga Tionghoa atau China tetapi dari segala lapisan juga loh.

Aku juga baru tahu kalau Imlek atau Sin Tjia adalah perayaan para petani yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama awal tahun baru. Selain itu pernak-pernik Imlek juga banyak dari pertanian, seperti buah jeruk dan ku keranjang karena berasal dari kebudayaan petani.

Imlek juga ternyata bukan perayaan keagamaan, Imlek pertama-tama adalah perayaan menyongsong musim semi yang berada di kalangan petani China Kuno. Sentuhan keagamaan itu diberi karena di China Kuno banyak penganut Tao, Khonghucu, dan Buddha. Sekian informasi yang aku ambil karena tulisannya cukup panjang.

Salah satu tulisan lagi yang aku baca adalah “Imlek dan Gus Dur” yang aku baca di Tajuk Rencana, aku mengambil ceritanya hanya sedikit karena kalau semua akan membuat blog ini sangat panjang dan membosankan.

Kemeriahan perayaan Imlek di sejumlah daerah mulai terlihat, tetapi ada juga yang biasa saja, itu tergantung daerah, warga, dan pemimpin daerah tersebut. Kalau di daerah aku, khususnya di mal-mal, banyak sekali pernak-pernik dan baju Imlek yang di jual. Di Bogor lima belas hari setelah Imlek banyak kelompok masyarakat mulai mempermasalahkan Imlek. Namun, Wali Kota Bogor tetap teguh pada posisinya untuk tetap mempertahankan tradisi Imlek tersebut.

Barongsai dan liong diperbolehkan tampil di ruang publik oleh Gus Dur. Padahal, ruang gerak kesenian barongsai dan liong dibatasi pada masa Orde Baru. Pada tahun 2001, Presiden Gus Dur menetapkan Imlek sebagai hari libur tidak wajib dan ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Sekian tulisan yang aku baca semoga semua jadi bisa lebih tahu apa itu Imlek. Bagi yang ingin membaca keseluruhan tulisan tersebut bisa baca di internet dengan judul yang sudah tertera diatas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s